Langsung ke konten utama

Milad ke-29, UKM Al-Izzah mengusung tema “Mempererat Ukhuwah, Meningkatkan Gairah Arabiyah, Menjadi Al-Izzah yang Mutamayyizah”


Foto : Doa bersama dalam acara milad UKM Al-Izzah ke-29

Sabtu, 7 Februari 2026
 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Izzah UIN Sunan Kudus sukses menggelar peringatan milad yang ke-29 tahun. Bertempat di Maktab Al-Izzah, Gedung PKM Kampus Timur Lantai 2, acara berjalan hangat dan penuh suka cita dengan kehadiran para pengurus serta demisioner. Acara milad kali ini mengusung tema “Mempererat Ukhuwah, Meningkatkan Gairah Arabiyah, Menjadi Al-Izzah yang Mutamayyizah”. Melalui tema tersebut, UKM Al-Izzah diharapkan menjadi organisasi yang semakin solid, konsisten melestarikan budaya Arabiyah, serta terus menjadi unit kegiatan mahasiswa yang unggul secara kualitas.

Acara dibuka dengan sambutan inspiratif dari Muhammad Baihaqi selaku Rois Tsani UKM Al-Izzah. Suasana segera beralih menjadi syahdu saat para peserta melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan prosesi tahlil yang khidmat. Rangkaian acara resmi kemudian diakhiri dengan pembacaan doa penutup dan sesi makan bersama yang hangat sebagai sarana mempererat tali persaudaraan.



Foto : Makan bersama Pengurus & Demisioner UKM Al-Izzah

Seiring bertambahnya usia, dapat disadari sepenuhnya bahwa jalan yang terbentang di depan tidak akan semakin mudah. Kita sedang berada di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, dimana tantangan organisasi tidak lagi hanya sekadar menjaga eksistensi, tetapi juga bagaimana menjawab tuntutan zaman yang kian kompleks. Namun, tantangan bukanlah penghalang, melainkan batu pijakan untuk melompat lebih tinggi dengan sinergi antara pengurus dan dukungan para alumni, UKM Al-Izzah diharapkan mampu bertransformasi menjadi wadah yang adaptif di era digital tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebahasaannya.


Penulis : Najwa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Sosok Lora Ismail Al-Kholilie, Cucu Syaikhona Kholil Asal Bangkalan Yang Penuh Inspiratif Bagi Kalangan Pecinta Bahasa Arab

Foto: https://cariustadz.id/ustadz/detail/Lora-Ismail-Amin-Kholil-562152 Tidak sedikit masyarakat di Indonesia telah memanfaatkan media sosial sebagai sarana pembelajaran guna memperdalam ilmu agama yang dimiliki melalui menonton tayangan kontennya, terkhusus kaum muda. Tetapi kenyataan diluar sana menyatakan bahwa tidak sedikit pendakwah di media sosial yang nekat mengaburkan kebenaran informasi hanya demi mencari popularitas semata. Maka dari itu, memilih referensi konten yang tidak sesat harus dilakukan dengan filtrasi yang ketat, bijak, tepat dan kompeten, terlebih lagi tidak sedikit influencer yang melakukan kesalahan fatal seperti memberikan salah pengartian terhadap beberapa hal, seperti penyesatan secara pemahaman ilmu pengetahuan terhadap beberapa kalimat-kalimat Bahasa Arab yang menjadi tren di kalangan masyarakat itu sendiri. Hal ini ternyata telah menjadi suatu perhatian yang khusus bagi sosok Lora Ismail Al-Kholilie, seorang influencer sekaligus ulama' yang lahir di ...

Kisah Dibalik Pengarang Kitab JURUMIYYAH

Sumber foto:https://jurnaba.co/biografi-ibnu-ajurrum-waliyullah-penulis-kitab-matan-jurumiyah/   para santri dan pelajar bahasa arab pasti sudah tidak asing lagi dengan kitab Jurumiyyah karena kepopuleran Kitab ini yang sudah  mendunia. Kitab yang lebih dikenal dengan matan jurumiyyah ini berisi kajian dasar nahwu yang padat dan ringan digunakan untuk para pemula. Sayangnya tidak semua pelajar dan para pengguna matan jurumiyah ini tahu dan kenal dengan sang pengarang kitab Jurumiyyah.  Syekh Ibnu Ajurrum yang memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhaji merupakan ulama nahwu sekaligus pengarang dari kitab Jurumiyyah. Sesuai namanya, Al-Jurrumiyyah yang merupakan kitab muqaddimah (pengantar) tentang ilmu Nahwu ini ditulis oleh Ibnu Ajurrum ketika masih di Mekkah. Isi dari kitab ini yang begitu ringkas dan mendasar sangat cocok digunakan bagi pemula yang ingin belajar bahasa Arab. Sehingga kitab ini perlu diberi penjelasan yang lebih mend...

Abu Aswad Ad-Du'ali Sang Penemu Harakat

      (Gambar: http://tahfizhdulido.com)  Tidak bisa dipungkiri bahwa Al-Quran yang selalu kita baca saat ini ternyata amat jauh berbeda dengan Al-Qu'an asli pada zaman Rasulullah. Hal ini dikarenakan pada mulanya Al-Quran turun kepada Rasulullah tanpa adanya tanda baca dan syakal sama sekali. Barang tentu sangat sulit bagi kita untuk membacanya. Apalagi huruf-huruf yang memiliki bentuk yang sama tanpa adanya titik, pasti susah untuk membedakannya.  Berkat ijtihad para tabi'in dan Ulama' terdahulu yang telah berhasil memudahkan pembacaan Al-Quran yakni dengan memberikan tanda baca pada Al-Quran.  Al-Quran yang semula polos kemudian oleh Abu Aswad Ad-Du'ali diberikan titik agar membedakan huruf yang dibaca fathah, kasrah, atau dhammah.  Abu Aswad Ad-Du'ali yang memiliki nama asli Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yu'mar bin Du'ali lahir di Basrah yakni pada tahun 603 M. Ia merupakan murid kinasih Ali bin Abi Thalib. Abu Aswad Ad-Du'ali dikenal s...